Selasa, 02 Maret 2010 - 16:18:26 WIB
Umiati (45)
BISA TERBELI RUMAH DARI BERSIH-BERSIH
Diposting oleh : Webmaster
Kategori: Gugah - Dibaca: 44 kali


Subuh yang tidak ingin saya tinggalkan, akhirnya saya putuskan untuk bangun di pagi buta. Suami, anak laki-laki yang siap bekerja, serta dua anak yang masih sekolah, membuat saya harus mempersiapkan makan pagi ala kadarnya. Jika masih ada nasi, maka saya akan menggorengnya atau ceplok telur untuk lauk makan. Tapi kalau tidak ada, maka roti tawar yang dijual kiloan menjadi sarapan pagi kami, itu saya campur dengan telor, dadar roti lah bisa dibilang begitu. (tersenyum)

Pukul setengah 7, dua anak perempuan saya yang bersekolah di SMK dan SMP swasta di Palembang ini berangkat dengan diantar anak laki-laki saya dengan menggunakan motor - (tersenyum) maklum untuk menghemat ongkos. Mengingat mereka hanya bisa saya kasih tiga ribu tiap harinya, dan itu sudah termasuk ongkos.

Setelah pekerjaan rumah beres, suami dan anak-anak pun sudah kenyang, maka saya bersiap-siap untuk bekerja di salah satu kantor tempat jual beli perumahan, bukan sebagai penjual, tapi hanya sebagai orang yang membersihkan, merapikan, serta menyediakan minum para pegawai di sana. Pukul 7.30 an saya keluar rumah, dan pulang sekitar pukul 10.30 dilanjutkan dengan jualan di warung kecil.
  
Di sana saya harus membersihkan kantor berlantai 3; menyapu, mengepelnya setiap hari, dan merapikan serta menyediakan minum untuk pegawai.  Semua ini saya lakukan tidak lain hanya untuk menyekolahkan anak-anakku sampai selesai. Mengingat anak-anak memiliki keinginan untuk bisa kuliah, saya hanya bisa bilang pada mereka "Mak nurut be apo yang kamu pengen, selagi mak masih hedup. Mak usahake."
  
Empat orang anak yang sudah berkeluarga, alhamdulillah sudah bisa saya lepaskan. Paling tidak mereka bisa membiayai keluarganya sendiri. Saya pun tak mau minta-minta pada anak, karena mereka harus menghidupi istri dan anak-anaknya yang masih kecil. Tapi kalau mereka ngasih, ya saya ambil. (tersenyum)
  
Kerja di kantor ini tak membuat saya bosan. Selain bos nya ramah, dia pun tak menuntut banyak pada saya. Kalau pun saya sakit, dia tidak meminta saya untuk mengepel ketiga lantai tersebut. Pernah hampir selama satu bulan penuh saya izin tak masuk, karena menjaga suami saya di rumah sakit akibat selalu muntah darah - dia datang menjenguk ke rumah dan memberikan gaji saya sebulan penuh. Saya pikir akan dipecat, tapi ternyata tidak.
  
Saya tak banyak omong dengan bos saya, kecuali menjawab apa yang dia tanya. Bukan itu saja, waktu saya lagi perlu uang untuk menyambung anak saya masuk SMK, dia langsung meminjam. Cara pelunasannya pun tak terlalu memaksa. Dia hanya memotong 50 ribu dari gaji saya yang hanya 300 ribu tiap bulannya.
  
Gaji itulah yang kugunakan untuk uang makan, biaya sekolah. Pastinya itu semua tidak akan cukup, tapi Allah membantu melalui anak-anak saya yang masih bersekolah dan bekerja ini. Anak-anak saya bersekolah perbulan bisa dapat upah 70 ribuan dari menagih uang jaga malam, dan jualan barang plastik itu mereka gunakan untuk keperluan sekolah, uang buku, fotokopi atau lainnya. Sedang anak cowok yang bergaji lumayan inilah, melengkapi kekurangan, dari biaya sekolah, uang makan dan lainnya.
  
Sedang uang jajan mereka sehari-hari dari hasil jualan tiap harinya. Walau hasil jualan hanya 10 hingga 15 ribu tiap harinya, itu cukup untuk mengongkosi mereka. Karena itu saya selalu mengingatkan pada anak-anak saya, "Hidup itu apo adanyo be. Jangan ampe meminjam sana sini terutama duet hanya untuk keperluan yang dak ado guno. Kalo ado yo beli, kalo dak ado yo diem be. Hidup susah jangan lagi dibuat susah".
  
Mungkin karena itulah Allah kasih dengan saya. Dari pekerjaan lama, walau status nya gak berubah sebagai orang yang beres-beres dan ngepelin lantai. Saya bisa terbeli rumah, walaupun kecil - yang saat ini ditinggali oleh anak saya beserta istrinya. Satu yang saya pegang dari dulu, 'jujur'. Saya sudah berniat kalo saya jujur maka anak-anak saya akan selamat dan lulus sekolah - tapi kalo saya mencuri, maka anak saya akan putus di tengah jalan.
  




0 Komentar :

Isi Komentar :
Nama :
Website :
Email :
Komentar
 
 (Masukkan 6 kode diatas)

 







DSIM Aktual (52)
From Chairman (14)
Gugah (57)
Hikmah (59)
IdeA (32)
Keajaiban Sedekah (29)
Mozaik (63)
Mulia Parenting (4)
Tahukah Anda (30)






ACT (2)
Akikah Mulia (3)
Kemanusiaan (1)
Kurban 1430 H (5)
LKC (4)
LMPI (5)
MU (5)
Ramadhan (1)
Tabungan Kurban (2)





• 17 Juni 2010
Aksos di Talang Andong, Banyuasin

• 15 Juni 2010
Poskes dan PMT di Tegal Binangun Plaju

• 15 Juni 2010
Penyerahan Infak siswa-siswi Nurul Fikri melalui DSIM

• 29 Mei 2010
Familly Gathering Siswa Kelas 6 SDIT Izzuddin

• 15 Mei 2010
Seminar & Bedah Buku "Saat Berharga Untuk Anak Kita"












Anda pengunjung ke




Add DSIM as friend

Profil Facebook Dsim Palembang



Pagerank Info

PageRank

PagerankAlexa.Com

PagerankAlexa.Com



Lingkar Sinergi











e-zakat









Darimana Anda mengenal DSIM?

Buletin Jumat
Newsletter
Spanduk
Facebook
Lain-lain
Teman

Hasil Poling